Siapa yang tidak kenal dengan Kawah Ijen. Objek wisata ini dikenal luas oleh para wisatawan mulai dari wisatawan domestik hingga wisatawan asing.

Tidak mengherankan, karena keindahan objek wisata ini sering digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk film layar lebar, seperti King (2009), Supernova: Knight, Princess & Shooting Star (2014), ILY from 3.800 Feet (2016) dan akhirnya Traveler Hijab (2016).

Berkat film-film ini, jika pada 2011 jumlah pengunjung mencapai sekitar 16 ribu orang, maka data terbaru pada 2015 meningkat 10 kali lipat menjadi 150 ribu pengunjung.

kawahijen

Selain itu, dengan diberlakukannya Gunung Ijen sebagai Cagar Biosfer oleh UNESCO pada bulan Maret 2016, secara otomatis dipastikan bahwa pesona keindahan Kawah Ijen akan semakin mendunia dan mendatangkan wisatawan asing yang dampak positifnya dapat mendorong perekonomian di Banyuwangi .

Kawah Ijen terletak di puncak Gunung Ijen yang masih merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian 2.386 meter di atas permukaan laut. Pemerintah juga telah menetapkan kawasan wisata Kawah Ijen untuk dimasukkan dalam kawasan Cagar Alam Taman Wisata Ijen dengan luas 2.500 hektar.

Lokasi Kawah Ijen

Lokasinya berada di antara Kabupaten Licin, Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Klobang, Kabupaten Bondowoso. Dan yang menarik, Kawah ini berada di tengah kaldera terluas di Pulau Jawa dengan diameter 6 km.

Baca Juga :

Kawah Ijen sendiri pada awalnya adalah sebuah danau di Gunung Ijen yang terbentuk akibat letusan Gunung Ijen yang telah meletus empat kali, yaitu pada tahun 1796, 1817, 1913 dan 1936. Letusan ini membuat kawah diisi dengan air dan secara alami membentuk danau kawah yang luar biasa. Ukuran Kawah Ijen sendiri adalah sekitar 960 meter x 600 meter dengan kedalaman 200 meter. Level air Kawah Ijen 0,5 sama dengan tingkat asam baterai mobil

Selain ukurannya yang luar biasa, Kawah Ijen juga diklaim sebagai salah satu kawah paling asam di dunia. Yaitu dengan keasaman mendekati nol, sehingga dapat melarutkan tubuh manusia dengan cepat. Namun, di balik keganasannya, Kawah Ijen juga menawarkan keindahan yang mempesona.

Pesona keindahan Kawah Ijen

kawahijen 1

Selain pemandangan Kawah Ijen dari puncak Gunung Ijen terlihat sangat indah dengan danau besar berwarna hijau kebiruan dalam kabut belerang, Kawah Ijen juga menawarkan sensasi kesejukan dengan suhu udaranya 10 ° Celcius dan bahkan dapat mencapai 2 ° Celcius. Di sekitar kawah ini, ada juga berbagai tanaman yang hanya dapat ditemukan di dataran tinggi, seperti bunga Gunung Pinus dan Edelweis yang umumnya dikenal sebagai bunga abadi.

Ketika pagi tiba dan matahari mulai bersinar, Kawah Ijen semakin memberikan kesejukan pada kulit dan mata karena sejauh mata memandang Kawah Ijen memberikan tampilan hijau yang dipantulkan oleh sinar matahari. Pemandangan eksotis yang tidak akan ditemukan di perkotaan.

Sekitar lereng kawah adalah Manisrejo atau pohon cantiqi yang daunnya berwarna kemerahan, sedangkan dinding batu kawah berwarna kekuningan. Dan jika Anda melihat-lihat Anda akan melihat gunung-gunung lain di sekitar Gunung Ijen, seperti Gunung Merapi di timur, Gunung Raung, Gunung Suket dan Gunung Rante

Pesona Api Biru

kawah ijen

Selain itu, Kawah Ijen memiliki fenomena alam yang tidak boleh dilewatkan oleh pendaki, yaitu Blue Fire atau Blue Fire. Hanya ada dua fenomena ini di dunia, yaitu di Ijen dan yang lainnya di Isandia. Karena kelangkaan pemandangan, fenomena Blue Fire ini diburu oleh para pendaki hingga berjuang di tengah malam untuk mendaki ke Kawah Ijen dengan ketinggian 2.443 meter di atas permukaan laut.

Mereka menunggu semburan api biru yang muncul dari puncak Gunung Ijen dari subuh hingga subuh. Tips untuk bisa menikmati fenomena Blue Fire pada waktu terbaik, yaitu antara pukul 01.00 WIB hingga 03.00 WIB. Puncak dari keindahan Kawah Ijen terletak justru ketika matahari berada di belahan bumi lainnya. Warna cerah ini berasal dari suhu tinggi di kawah.

ijenvolcanotour g 1

Pesona Api Kawah Ijen Biru telah mendunia. Terbukti dengan banyaknya wisatawan asing yang mengunjungi Kawah Ijen. Wisatawan paling dominan berasal dari Prancis dan Cina.

Namun di balik keindahannya, setiap pendaki ke kawah harus tahu risiko di balik pesona Blue Fire, sehingga mereka selalu bisa waspada. Ada asap berbahaya dan bau belerang ketika terhirup berlebihan, meski mengenakan topeng.

Jalur Pendakian Kawah Ijen

Jalur Pendakian Kawah Ijen Blue Fire

Waktu terbaik untuk mendaki Gunung Ijen adalah pada musim kemarau pada bulan Juli dan September. Karena di musim hujan medan pendakian menjadi licin dan sangat berbahaya. Dan untuk memulai pendakian, perjalanan menuju kawah Ijen dimulai dari Paltuding, yaitu PHPA (Hutan Lindung dan Konservasi Alam) Perhutani yang terletak di kaki Gunung Merapi Ijen untuk melaporkan diri sambil membayar tiket masuk.

Biasanya, pendakian Kawah Ijen diberlakukan mulai pukul 01:00 – 12:00 WIB. Namun, wisatawan tidak dapat langsung mendaki karena waktu pendakian tergantung pada kondisi alam. Bisa jadi ketika tiba di sana karena pendakian ditutup karena hujan lebat, kebakaran hutan, tanah longsor atau asap belerang yang berhembus karena perubahan angin menuju jalur pendakian.

0ac4f605 21d6 4048 af4d 18945ed382f3 169

Sementara di Paltuding tidak perlu khawatir tentang fasilitas. Karena di Paltuding sendiri fasilitasnya cukup memadai. Area yang luas memiliki area parkir yang dapat menampung kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Fasilitas umum seperti ruang sholat, kamar mandi dan toilet sudah tersedia untuk wisatawan. Dan tidak perlu khawatir tentang persediaan sebelum mendaki, karena banyak warung makan terbuka di sekitar area Paltuding.

Mulai dari Paltuding wisatawan akan berjalan ke Kawah Ijen yang berjarak sekitar 3 km. Meski jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi mengingat kondisi medan untuk mendaki kawah Ijen yang terdiri dari tanah berpasir dan bebatuan halus dan pendakian yang biasanya dimulai pada tengah malam dengan lampu senter juga kemampuan masing-masing orang berbeda maka biasanya dibutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 jam untuk mencapai Kawah Ijen.

Bagi pengunjung grup, membawa banyak wanita atau mereka yang baru saja tiba untuk pertama kalinya dan bahkan mungkin belum melakukan pendakian sebelumnya, disarankan untuk lebih memanfaatkan layanan pemandu lokal yang berada di bawah penambang belerang yang sangat akrab dengan medan menuju Kawah Ijen.

pondok bunder kawah gunung ijen

Sebelum mencapai puncak Ijen, ada Weighing Post atau lebih dikenal dengan Pondok Bunder yang digunakan sebagai tempat menimbang belerang oleh penambang dari Kawah Ijen. Di Pondok Bunder, ini adalah pos terakhir sebelum Kawah Ijen. Biasanya pos ini digunakan sebagai tempat istirahat sejenak bagi para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan dan bagi para pendaki yang baru saja kembali dari Kawah Ijen.

Bagi pengunjung yang datang lebih awal dan akan melakukan pendakian di pagi hari, lebih baik untuk mendirikan tenda yang ada di perkemahan untuk pendaki yang ingin menghabiskan malam dengan nuansa alam.

Sedangkan bagi mereka yang ingin bermalam di penginapan, di Paltidung terdapat penginapan sederhana yang dikelola oleh Departemen dengan tarif bervariasi dari kamar seharga Rp 100.000 per malam hingga vila tiga kamar seharga Rp 500.000 per malam.

Jika Anda ingin tinggal di tempat lain, ada juga wisma PTP di Perkebunan Belampandan Jampit dengan harga mulai dari Rp 135.000 per kamar per malam. Namun dari dua perkebunan ini masih harus menyewa kendaraan ke pos Paltuding sejauh 6 km.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *